Loading...

Selasa, 23 November 2010

KONSEP DAN TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


MAKALAH
“KONSEP DAN TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi
Suprih Widodo, M. T. Si.





 








Disusun Oleh :
Nurlaela Wahidah (0804453)
Kelas:  Matematika Smt. 5


UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS PURWAKARTA
2010


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur  dipanjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyusun makalah  yang berjudul Belajar dan Pembelajaran.
            Belajar merupakan proses perubahan perilaku yang meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor, sedangkan pembelajaran lebih pada penekanan kegiatan proses belajar itu sendiri. Agar kegiatan belajar dan pembelajaran berlangsung lebih bermakna maka guru perlu memahami bagaimana konsep belajar dan pembelajaran serta aplikasi teori belajarnya.
            “ Tiada gading yang tak retak “, seperti itulah pepatah mengatakan. Oleh karena itu kritik dan saran diharapkan penulis guna memperbaiki mutu makalah ini dan semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memperkaya wawasan bagi para pembaca.
Semoga Allah SWT menjadikan amalan yang ikhlas mengantarkan kebaikan kepada kita di dunia maupun di akhirat. Amin.


Purwakarta,   September 2010

Penulis
 
 








DAFTAR ISI


  
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memberikan pemahaman pelajaran di sekolah yang dapat diaplikasikan tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di luar sekolah dan di dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan berlangsung melalui proses kegiatan belajar dan pembelajaran. Belajar itu sendiri adalah proses perubahan perilaku yang dilakukan secara sadar melalui komunikasi timbal balik, baik antara guru dengan siswa, maupun siswa dengan siswa. Agar tercipta suasana belajar yang aktif dan efektif tentunya seorang guru harus mengetahui dan memahami konsep belajar dan pembelajaran serta berbagai teori yang ada didalamnya sehingga dapat menggunakan berbagai metode dan strategi yang tepat, guna mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Dalam makalah ini diuraikan penjelasan mengenai bagaimana konsep belajar dan pembelajaran dapat diaplikasikan sesuai teori-teori belajar yang mendasarinya. Serta sejauh manakah kebutuhan akan teori pembelajaran itu yang dapat memberikan petunjuk terhadap praktek pendidikan dan pembelajaran yang lebih baik di masa kini dan masa yang akan datang.


      I.            PENDAHULUAN

A.    Latar Balakang Masalah

Belajar merupakan hal yang bersifat kompleks. Kompleksitas belajar itu dipandang dari dua subjek, yaitu siswa dan guru. Dari segi siswa belajar dialami sebagai suatu proses.yakni proses perubahan perilaku dalam hal kognitif, afektif dan juga psikomotor. Sedangkan dari segi guru, proses belajar tersebut dapat diamati secara tidak langsung. Artinya proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru. Proses belajar tersebut tampak lewat perilaku siswa mempelajari bahan belajar.
Pencapaian kompetensi oleh siswa di sekolah itu pun sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dilakukan. Dan proses belajar tersebut dikendalikan oleh guru berdasarkan kurikulum yang berlaku. Agar guru dapat membimbing siswa ke arah proses belajar dan pembelajaran yang tepat, maka guru harus memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep belajar itu sendiri dan teori belajar yang ada.
Dalam makalah ini akan diantarkan mengenai konsep belajar dan pembelajaran, serta teori belajar secara teoritis dan penerapannya dalam proses pembelajaran khususnya di sekolah dasar.

B.     Rumusan Masalah

1.    Apa belajar itu ?
2.    Apa pembelajaran itu ?
3.    Teori apa saja yang ada dalam belajar ?
4.    Bagaimana penerapan teori-teori belajar dalam proses pembelajaran ?

C.    Tujuan

1.    Mampu memahami dan menjelaskan konsep belajar
2.    Mampu memahami dan menjelaskan konsep pembelajaran
3.    Mampu memahami dan menjelaskan teori belajar
4.    Mampu menerapkan teori-teori belajar dalam proses pembelajaran

D.    Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini :
1.    Dapat menambah wawasan bagi para pembaca mengenai konsep belajar dan pembelajaran
2.    Dapat menambah wawasan pembaca mengenai teori-teori belajar
3.    Dapat menjadi acuan para guru agar memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep dan teori-teori belajar yang ada serta dapat mengaplikasikannya agar dapat membimbing siswa ke arah belajar dan pembelajaran yang tepat.

E.     Prosedur Pemecahan Masalah

Dari rumusan masalah diatas, prosedur pemecahan masalah yang kami gunakan adalah melalui kajian pustaka. Yaitu dengan cara mencari referensi-referensi dan kemudian menguraikan hasil kajian dan teoritis dengan mengambil sumber dari buku dan internet mengenai teori belajar dan pembelajaran.

F.     Sistematika Penulisan Makalah

Sistematika penulisan makalah ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu, bagian pendahuluan tediri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat  penulisan, prosedur pemecahan masalah dan sistematika penulisan makalah. Bagian isi tediri dari konsep belajar, konsep pembelajaran, aplikasi teori psikologi dan belajar dalam pembelajaran dan kebutuhan akan teori pembelajaran. Dan bagian penutup terdiri dari kesimpulan.

                             II.            BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1.      Konsep Belajar

Belajar (Hermawan, 2007) adalah proses perubahan perilaku, dimana perubahan perilaku tersebut dilakukan secara sadar dan bersifat menetap, perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam hal kognitif, afektif dan psikomotor.
Bower and Hilgard (1981) dalam  (Susilana, 2000), mengungkapkan bahwa belajar diartikan sebagai usaha memperoleh dan mengumpulkan sejumlah ilmu pengetahuan. Belajar adalah memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan melalui pengalaman. Schwartz (1972) juga menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif menetap, yang tidak berhubungan dengan kematangan, efek obat-obatan, atau keadaan fisiologis, melainkan merupakan hasil pengalaman dan seringkali dipengaruhi oleh latihan.
Untuk menjadikan kegiatan belajar bisa mencapai hasil yang diinginkan, diperlukan pengetahuan tentang prinsip-prinsip belajar yaitu :
Adanya perbedaan individual dalam belajar, yaitu bahwa proses belajar yang terjadi pada setiap individu berbeda satu dengan yang lain baik secara fisik maupun psikis, untuk itu dalam proses pembelajaran mengandung impikasi bahwa setiap siswa harus dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa itu sendiri.
Prinsip perhatian dan motivasi, dalam proses pembelajaran, perhatian berperan amat penting sebagai langkah awal yang akan memacu aktivitas-aktivitas berikutnya. Munculnya perhatian bisa secara spontan dan juga secara terencana, seseorang yang menaruh perhatian dan minat terhadap materi bidang studi tertentu biasanya akan muncul motivasi pada dirinya untuk mempelajarinya. Dalam kaitan ini motivasi merupakan suatu kekuatan yang menggerakan tingkah laku seseorang untuk beraktivitas.
Prinsip keaktifan, belajar pada hakekatnya merupakan suatu proses aktif yaitu kegiatan merespon terhadap stimulus pembelajaran. Setiap individu harus melakukan sendiri aktivitas belajar, karena belajar tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.
Prinsip keterlibatan langsung, prinsip ini berhubungan dengan prinsip aktivitas, bahwa setiap individu harus terlibat secara langsung untuk mengalaminya. Pendekatan pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara langsung akan mengasilkan pembelajaran lebih efektif sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Prinsip balikan dan penguatan, prinsip ini berkaitan dengan teori belajar operant conditioning dari BF. Skinner yang menekankan pada penguatan respon untuk memperoleh balikan yang sesuai dengan rancangan pembelajaran. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar melalui pengamatan metode-metode pembelajaran yang menantang.

2.      Konsep Pembelajaran

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses komunikasi transaksional antara guru dan siswa dimana dalam proses tersebut bersifat timbal balik, proses transaksional juga terjadi antara siswa dengan siswa. Komunikasi transaksional adalah bentuk komunikasi yang dapat diterima, dipahami dan disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran.
Pendapat lain dikemukakan oleh Oemar Hamalik bahwa “ pembelajaran adalah prosedur dan metode yang ditempuh oleh pengajar untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar secara aktif dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran “. (Hamalik, 2001).
Sedangkan (Dimyati, 2006) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu  untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dari pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran penekanannya pada kegiatan belajar siswa yang telah dirancang oleh guru melalui usaha yang terencana melalui prosedur atau metode tertentu agar terjadi proses perubahan perilaku secara komprehensif, yang terpenting adalah perlunya komunikasi timbal balik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa baik itu secara langsung maupun tidak langsung atau melalui media.
Bagan Pola Pembelajaran menurut (Ahmadi, 1991):
1)      Pola Pembelajaran Tradisional Pertama


 


2)      Pola Pembelajaran Tradisional Kedua


 




3)      Siswa


 



4)      Pola Pembelajaran Bermedia


 




Pola pembelajaran tradisional pertama adalah pola pembelajaran dimana guru sebagai pusat dari informasi. Pola tradisional kedua dalam proses pembelajaran sudah digunakan media sebagai alat bantu dalam menyampaikan informasi kepada siswa. Pola ketiga adalah pola pembelajaran guru dan media, dalam hal ini guru menyampaikan materi kepada siswa kemudian pada saat feedback dilakukan melalui media. Pola keempat adalah pola pembelajaran bermedia, pada pola ini guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi  bagi kegiatan pembelajaran para siswa. Akan tetapi siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai media. Saat ini dan di masa yang akan datang guru tidaklah hanya sebagai pengajar tetapi dia harus mampu berperan sebagai director of learning yaitu sebagai pengelola belajar yang memfasilitasi kegiatan belajar siswa melalui pemanfaatan dan pengoptimalan berbagai sumber belajar.
Dari keempat pola  pembelajaran di atas, pola pembelajaran yang selama ini biasa digunakan adalah pola pembelajaran tradisional pertama dan kedua yaitu pembelajaran dimana guru memiliki peranan penting dalam menyampaikan informasi dan dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi, dalam hal ini lebih mengacu pada pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru. Untuk pola ketiga dan keempat masih belum banyak diterapkan dalam proses pembelajaran karena banyak faktor yang menghambat terhadap pemanfaatannya.
Kurikulum berbasis kompetensi menuntut adanya penggunaan berbagai media dalam pembelajaran sebagai salah satu upaya mencapai tujuan pembelajaran, dalam rangka meningkatkan keaktifan, kreativitas, dan juga kemandirian siswa dalam belajar. Untuk mencapai usaha tersebut upaya yang dilakukan salah satunya dengan menerapkan pola pembelajaran guru dan media dan pola pembelajaran bermedia dimana dengan menggunakan media atau bahkan siswa belajar hanya dengan media akan memberikan kebebasan dan keleluasaan belajar kepada siswa sesuai dengan minat, bakat dan kebutuhan mereka serta siswa tersebut dapat mengukur sendiri sejauh mana pemahaman dan peguasaan mereka terhadap suatu materi.


3.      Aplikasi Teori Psikologi dan Belajar dalam Pembelajaran

Pendidik memerlukan kaidah-kaidah teori psikolgi dan belajar yang sahih dan lengkap yang dapat digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar. Banyak penemuan-penemuan dan penelitian belajar hendaknya dilakukan terlebih dahulu pengujian-pengujian praktis sebelum digunakan dalam praktek pendidikan dan pembelajaran. Melalui pengujian tersebut kaidah-kaidahnya diharapkan memiliki nilai tinggi untuk praktek pendidikan pembelajaran. Apabila hal ini dilakukan berbagai teori psikolog dan belajar baik teori belajar aliran behavioristik maupun aliran komprehensif, kaidah-kaidah esensinya mempunyai nilai implikasi yang sama terhadap praktek pendidikan dan pembelajaran.
Akibat pertumbuhan dan perkembangan dari psikologi terapan tersebut kalangan pendidik dan psikologi mulai menaruh perhatian kepada penggunaan kaidah-kaidah psikologi dan belajar dalam praktek endidikan pembelajaran. Dalam konteks inilah kaidah-kaidah dan teori psikologi dan belajar mulai dikembangkan menjadi teori-teori untuk kepentingan pembelajaran.

4.      Kebutuhan Akan Teori Pembelajaran

Paul Saetler  mengemukakan bahwa ada semacam kebutuhan dikalangan para pendidik dan guru untuk menyusun konsep dan kaidah teknologi pembelajaran dan mengembangkannya menjadi seperangkat kaidah yang terintegrasi. Teori atau teknologi semacam ini dapat menjadi penengah antara teori belajar  ilmu dasar, teori kurikulum dan teori komunikasi. Kebutuhan akan teori pembelajaran yang demikian didasarkan kepada asumsi bahwa pendidikan formal relatif panjang dalam prakteknya tetapi singkat dalam teorinya. Hal ini disebabkan kurangnya teori yang memadai. Teori yang memadai hendaknya memberikan petunjuk terhadap praktek pendidikan dan pembelajaran yang lebih baik serta memungkinkan dapat meramalkan efektif tidaknya suatu inovasi dalam pendidikan. Dengan demikian dapat memberikan dasar praktis bagi para administrator pendidikan dan guru.
Penggunaan psikologi terapan dalam praktek pendidikan adalah psikologi pendidikan. Salah satu bagian dari psikologi pendidikan yang sagat berperan dalam praktek pendidikan dan pembelajaran adalah psikologi dan teori belajar. Psikologi dan teori belajar sebagai bagian dari psikologi lebih banyak menjelaskan apa dan mengapa tingkah laku manusia terjadi.
Teori belajar berisi sejumlah proposisi tentang proses terjadinya tingkah laku manusia dalam pengertian menjelaskan mengapa tingkah laku itu berubah (Syariful, 2009). Ada dua faktor yang menyebabkan beubahnya tingkah laku manusia yakni faktor dari dalam diri manusia dan faktor dari luar. Atas dasar itu teori belajar dapat dikelompokkan menjadi teori internal dan teori eksternal.
Teori internal adalah teori belajar yang cenderung menrengkan kejadian-kejadian yang nampak dari sudut faktor-fakor yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Teori yang termasuk dalam kategori ini adalah teori belajar Gestalt dan Teori belajar Kognitif.
Teori eksternal adalah kebalikannya, yakni sudut faktor-faktor yang berada di luar diri manusia yakni interaksi individu dengan lingkungannya. Teori belajar yang termasuk dalam kategori ini adalah teori belajar aliran behavioristik.
Teori pembelajaran berupaya menjelaskan berbagai uasaha membantu siswa dalam mencapai tujuan pendidikan ( dalam pengertian mengubah tingkah laku siswa ). Teori pembelajaran berisikan seperangkat prinsip-prinsip yang melibatkan semua aspek pengalaman pndidikan. Dengan demikian teori pembelajaran berupaya menjelaskan bagaimana mengubah tingkah laku, berdasarkan kaidah-kaidah yang ada dalam teori belajar. Dengan perkataan lain teori pembelajaran diturunkan dari teori beajar.
Teori pembelajaran merupakan prinsip, teknik, cara dalam mendayagunakan sumber-sumber pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dari teori belajar kemudian diaplikasikan dalam teori pembelajaran, kemudian lahir desain pembelajaran sebagai sumber bagi penyusunan, perencanaan kegiatan pembelajaran dalam bentuk pedoman bagi kegiatan belajar mengajar untuk digunakan guru. Setelah itu dengan menggunakan beberapa metode tertentu guru melaksanakannya dalam proses belajar mengajar dengan para siswanya. Melalui penilaian pada akhir pembelajaran dapat diketahui keberhasilan tersebut. Dengan demikian dapat dilihat bagaimana hubungan antara teori belajar, teori pembelajaran, desain pembelajaran, proses belajar dan mengajar.
            Hubungan tersebut dapat dilukiskan dalam diagram:

Jerome bruner adalah salah seorang pendukung utama teori pembelajaran. ia berpendapat ada sumbangan dari teori psikoloogi perkembangan dan teori belajar sekalipun bersifat deskriptif. Padahal para pendidik dan guru memerlukan teori-teori yang bersifat  preskriptif, yang bermanfaat bagi pratek mendidik dan mengajat, yakni dalam bentuk teori pembelajaran.
(Susilana, 2000) juga menganjurkan pengembangan kaidah-kaidah pembelajaran berdasakan penelitian langsung pada situasi belajar dan pendidikan. Penelitian-penelitian psikologis dapat dijaadikan dasar untuk pengembangan kaidah-kaidah pembelajaran dengan mengadakan modifikasi–modifikasi sesuai dan bergantung pada situasi belajar dan pendidikan.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ausubel ( 1968 ) yang mengemukakan perlunya teori belajar kognitif sebagai dasar dalam mengembangkan teori pembelajaran dengan memusatkan kepada belajar penuh arti ( meaningful learning ).
Pengaruh pemikiran thorndike dalam studi psikologi khususnya dalam psikologi pembelajaran sangat besar. hampir setengah abad teori belajar ini menguasai teori belajar lainnya. Thorndike merupakan contoh dari seorang teoritis yang karyanya dipandang mendominasi psikologi dan pendidikan pada masanya. Edward L Thorndike dilahirkan di Williamsburg massachusetts tahun 1874. Universitas Wesleyen dan Universitas Harvard telah membentek ide-ide Thorndike mengenai psikologi.
    Dalam melakukan eksperimen pilihan pertamanya mengadakan penelitian terhadap anak-anak tetapi kemudian lingkungan yang membuat ia mulai mempelajari binatang sebagai pengganti. Percobaan pada binatang digunakan untuk membuktikan teorinya.  Thorndike secara serentak memberi pengaruh dasar pada penelitian psikolog belajar dan penerapan praktis dalam psikolog pandidikan.

4.1.   Dasar Teori Thorndike

Prosedur yang digunakan Thorndike sangatlah bersahaja dan sederhana . Thorndike melakukan studinya melalui observasi sepintas dan laporan ynag bersifat anekdot,sebagai dasar untuk menarik kesimpulan tentang belajar manusia dan binatang. Adapun percobaan yang dilakukan terhadap ayam adalah sebagai berikut:
Ayam ditempatkan pada kotak dengan jalan berliku-liku. Kotak itu mempunyai dua pintu keluar pada arah kotak yang berbeda, yang tertutup dan satu lagi menuju empat makanan. Sedangkan pada percobaan kucing tugasnya lebih komplek. Satu dinding kotak akan terbuka dan memberi jalan keluar dan masuk ke tempat untuk mendapatkan makanan, bila satu tombol atau beberapa dinding itu didorong. Dengan percobaan yang dilakukan berkali-kali barulah ayam dan kucing itu mendapatkan makanan setelah menemukan jalan kearah makanan tersebut. Asumsinya bahwa diperlukan waktu untuk melihat usaha kucing keluar dari kotak. Dia berpendapat bahwa usaha coba-coba yang dilakukan mengakibatkan adanya hubungan antara corak dari situasi (akal), hanya perlu teori bahwa sesuatu respon tertentu telah dipilih oleh anak kucing dalam situasi lain. Hubungan itu secara bertahap telah diperkuat antara respon dengan situasi tertentu.
    Menurut Thorndike respon-respon ini meliputi beberapa modifikasi melalui pangalaman sebelumnya, bersama dengan tindakan lain yang dapat dikenali sebagai bagian dari kecenderungan respon pembawaan organisme. Pada satu kemungkinan a. mencakar lantai b.mendesis dan membongkok c. tidur d. berlarian sekitar kandang e. manipulasi palang pintu untuk membukanya. Respon (e) mengakibatkan anak kucing bebas dari kurungan dan memakan makanan yang tersedia di kotak tersebut.

1.      Hukum-hukum utama ( Mayor )

       Berdasarkan penelitian disertasidoktornya, Thordike menyatakan beberapa prinsip hukum-hukum yang dapat mengikhtisarkan proses belajar. Thordike menyebutkan tiga hukum utamanya itu dengan nama Hukum latihan, hukum pengaruh. dan hukum kesiagaan.
a.                  Hukum Latihan
       Secara singkat hukum ini berpegang pada hal-hal yang sama dan terjadi melalui latihan dan tindakan tertentu. Dalam teori ini Thondike yakin teori koneksionisme seseorang menyatakan bahwa latihan dapat menguatkan ikatan atau hubungan. Thondike kemudian memperkuat dan aspek lainnya yakni hukum kegunaan dan hukum ketidakgunaan.
1.      Hukum kegunaan : Bila suatu hubungan dapat dibuat antara satu sisi dengan satu respon maka kekuatan hubungan yang memiliki persamnaan itu akan bertambah. diakui oleh Thorndike bahwa besarnya kekuatan hubungan dipengaruhu oleh berbagai macam hal seperti tenaga/kekuatan dan lamanya wakyu dari masa latihan.
2.      Hukum ketidakgunaan: hukum ketidakgunan mengikuti hukum kegunaan yakni tanpa latihan suatu hubungan akan lemah.
b.                  Hukum Pengaruh
 Hukum pengaruh dapat dinyatakan bahwa antara situasi dengan satu respon dibuat dan disertai atau diikuti kejadian dalamkeadaan yang memuaskan ,maka kekuatan hubungan akan bertambah. sebaliknya bila dibuat dan disertai atau diikuti oleh suatukejadian yang menjengkelkan, maka hubungan itu lemah.
c.                   Hukum Kesiapan
Fungsi utama dari hukum kesiapan adalah mengikat pengalaman tingkah laku kepada fisiologi. Usaha Thorndike menghubungkan pengamatan tingkah laku kepada fisiologi tidak banyak didorong oleh kenyataan. Hubungan semacam itu dapat dibuat, hal ini terjadi dari pengaruh teori William james yang berpendapat bahwa hukum-hukum psikologi akan lebih dekat hubungannya dengan apa yang dikenal yaitu hubungan fisiologi.
       Suatu tindakan yang memuaskan atau menjengkelkan dapat dengan tepat diramalkan sebagai karakteristik dari tingkah laku internal.

2.      Hukum Minor

1.      Hukum multipel respon atau varide recion
"Hukum ini menyebutkan bahwa dalam situasi yang baru pada umumnya tindakan subjek menunjukan respon yang banyak atau reaksi yang bermacam-macam. hal ini berarti dalam perbuatan belajar terdapat kemungkinan dari masing-masing respon yang dapat merupakn sesuatu yang dipelajari dan dapat mendatangkan kepuasan".
2.       Hukum set atau attitude
"Hukum set atau attitude barpendapat bahwa organisme akan melakukan aksi dalam satu situasi yang diberikan sesuai dengan keadaan dan sikap yang terjadi pada situasi pada saat itu.
3.       Hukum patrial activity 
"Hukum ini mengatakan bahwa bagian dari situasi itu mungkin mempunyai pengaruh yang kuat pada semua atau sebagian tingkah laku subjek, sehingga beberapa respon mungkin secara praktis terikat pada semua rangsangan yang terjadi pada saat itu.
4.      Hukum assimilisation atau analogy
"Hukum ini mengatakan bahwa organisme berhadapan dengan situasi yang baru , organisme itu akan beraksi sebagaimana ia bereaksi pada situasi yang pernah terjadi.
5.      Hukum assosiative shifting
"Hukum ini mengatakan bahwa sesuatu respon yang dapat dilakukan dapat dipelajari dengan cara diasosiasikan dengan suatu yang dihayatimya. Oleh karena itu perubahan terjadi secara bertahap dan merespon  dengan masing-masing rangsangan yang baru disajikan.
            Berdasarkan hukum-hukum diatas Thorndike sampai kepada penyelidikan mengenai transfer dari latihan dalam perbuatan manusia. Menurut Thondike apa yang dipelajari terlebih dahulu akan mempengaruhi apa yang dipelajari kemudian . Apalagi yang dipelajari kemudian banyak persaman dengan hal yang telah terjadi. 

3.      Belajar pada manusia ( Human Learning )

  Walaupun data utama yang diperolehnya dari percobaan dengan binatang tetapi Thorndike tetap menaruh perhatian terhadap belajar manusia. Belajar pada manusia masih terdiri dari :
1.      Keterasingan dan kekuatan hubungan. Perbedaan mungkin terletak di dalam faktor-faktornya misalnya derajat spesifikasi yang lebih rendah dalam memberikan respon.
2.      Manusia dapat bereaksi terhadap isyarat yang keragamannya lebih luas di dalam satu situasi sehingga membuat belajar pada manusia lebih umum dari pada binatang.
3.      Tingkah laku manusia masih merupakan kebiasaan tetapi tidak begitu didominasi oleh situasi latihanyang asli seperti terjadi pada binatang.
4.      Perbedaan manusia dan binatang dalam belajar bahwa satu situasi lebih berpartisipasi secara aktif didalam belajar mengenai pemilihan semua elemen yang paling kritis dan penting. Perbedaan ini bagaimanapun tidak menggambarkanketegasan dalam pertukaran dari binatang kepada manusia, tetapi menggambarkan perubahan dalam tekanan.

4.2.   Penerapan teori pada topik khusus

Ada tiga topik yang dikaji oleh Thorndike dalam hubungannya dengan keterbatasan-keterbatasan koneksionisme sebagai teorinya :
1.        Teori transfer
Seorang yangdapat mengetik dengan cepat akan dapat belajar main piano dengan cepat daripada yang tak pernah belajar mengetik yang keduanya mempunyai kesamaan kegiatan. Koneksionisme menerangkan secara luas tentang transfer fenomena tanpa menggunakan disiplin formal atau mental. Berkenaan dengan anggapan khusus tentang syaraf fisik (neuro physiologis) dapat dijadikan alasan bahwa transfer of training dapat terjadi bilamana terdapat kondisi unit-unit yang sama dan gerak sel dalam otak sesuai dengan situasi latihan pada situasi baru.

2.        Pengaruh Penyebaran
Pengaruh penyebaran (spread of effect) adalah nama yang diberikan Thorndike tentang fenomena yang ditemukannya untuk mengkoreksi teorinya agar lebih baik. Beberapa hokum yang dikoreksi adalah sebagai berikut :
1.      Hukum latihan ditinggalkan karena dianggap tidak tepat. Pengulangan semata-mata tidak memperkuat hubungan stimulus-respon, demikian juga hokum ketidakgunaan tidak melemahkan suatu hubungan stimulus-respon.
2.      Hukum pengaruh direvisi karena : hadiah mempengaruhi hubungan stimulus-respon, sedang hukuman tidak mempengaruhi hubungan.
3.        Belajar Tanpa Sadar
Berdasarkan pengamatan dalam eksperimen-eksperimennya Thorndike berkesimpulan bahwa :
1)      Proses belajar adalah incremental (terjadi sedikit demi sedikit) bukan insightful (sekaligus).
2)      Proses belajar tidak menggunakan idea tau penalaran.
3)      Semua mamalia termasuk manusia belajar dengan cara yang sama yaitu, proses belajarnya mengikuti hukum-hukum yang sama.

4.3.   Implikasi dalam pendidikan dan pembelajaran

Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah. Dan mengajar yang baik adalah mengetahui materi yang akan diberikan, respon yang akan diharapkan, dan kapan harus memberi hadiah, serta pentingnya tujuan pendidikan.

Ada beberapa aturan yang dibuat oleh Thorndike berkenaan dengan pembelajaran :
a)     Perhatikan situasi murid.
b)     Perhatikan respon apa yang akan diberikan dalam situasi tersebut.
c)     Ciptakan hubungan respon tersebut dengan sengaja.
d)    Situasi-situasi lain yang sama jangan diindahkan jika dapat memutuskan hubungan tersebut.
e)     Jika hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubungan-hubungan lainyang sejenis.
f)      Buatlah hubungan tersebut sedemikian rupa sehingga dapat menjadi nyata.
g)     Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
       Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pendidikan di sekolah antara lain :
1.      Sekolah harus mempunyai tujuan-tujuan pendidikan yang dirumuskan dengan jelas.
2.      Tujuan pendidikan harus sesuai dengan kemampuan siswa.
3.      Bahan pembelajaran harus terbagi-bagi menurut unit-unit sesuai dengan macam-macam situasi.
4.      Proses belajar harus bertahap mulai dari yang sederhana kepada yang kompleks.
5.      Motivasi tidak perlu ditimbulkan kecuali dalam hubungan menentukan apa yang menyenangkan bagi siswa.
6.      Tekanan pendidikan adalah perhatian pada pelaksanaan respon-respon yang benar terhadap stimulus.
7.      Respon-respon yang salah harus segera diperbaiki.
8.      Ujian-ujian yang teratur perlu dilakukan agar menetahui apakah proses belajar sesuai dengan tujuan.
9.      Bila siswa belajar baik segera diberi hadiah, dan bila siswa berbuat salah harus segera ditegur/diperbaiki.
10.  Buat situasi belajar mirip dengan kehidupan nyata sebanyak mungkin.
11.  Memberi masalah yang sulit kepada siswa tidak akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.
       Pendidikan yang baik adalah memberikan pelajaran di sekolah yang dapat digunakan di luar sekolah dan kehidupan sehari-hari. 

Kesimpulan

      Belajar adalah suatu proses.yakni proses perubahan perilaku dalam hal kognitif, afektif dan juga psikomotor. Untuk menjadikan kegiatan belajar bisa mencapai hasil yang diinginkan, maka diperlukan pengetahuan tentang prinsip-prinsip belajar. Untuk memberikan kemudahan bagi para peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar secara aktif dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran diperlukan prosedur dan juga metode yang harus ditempuh oleh pengajar yakni melalui pembelajaran. Pembelajaran penekanannya pada kegiatan belajar siswa yang telah dirancang oleh guru melalui usaha yang terencana melalui prosedur atau metode tertentu agar terjadi proses perubahan perilaku secara komprehensif, yang terpenting adalah perlunya komunikasi timbal balik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa baik itu secara langsung maupun tidak langsung atau melalui media. Dalam proses pembelajaran pun ada aturan-aturan yang harus diperhatikan, diantaranya harus sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dan tentunya harus sesuai pula dengan kemampuan yang dimilki oleh siswa itu sendiri.
Dalam hal ini guru memiliki peranan yang sangat penting, guru harus memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep dan teori-teori belajar yang ada agar dapat membimbing siswa ke arah belajar dan pembelajaran yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. (1991). Pengelolaan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Ali, M. (2004). Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Dimyati. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Hamalik, O. (2001). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Harum, H. (2000). Belajar Secara Efektif. Cimanggis: Puspa Swara, Anggota IKAPI.
Hermawan, A. (2007). Belajar dan Pembelajaran Sekolah Dasar. Bandung: UPI Press.
Sudjana, N. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Susilana, R. (2000). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Syariful, F. (2009, September 15). teori belajar. Retrieved October 1, 2010, from blogspot: http://www.blogspot.com
Syaripudin, T. (2006). Landasan Pendidikan. Bandung: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar